Kamis, 16 Mei 2013


Hapuskan Budaya Jam Karet di Indonesia.

    Oleh Rochmatun Naili

Budaya jam karet merupakan budaya yang sudah merajalela di mana-mana, termasuk negara Indonesia. Dikancah dunia Internasional negara Indonesia  sudah terkenal dengan budaya jam karet. Budaya ini sudah menjadi tradisi yang tidak pernah absen dari kebiasaan masyarakat Indonesia. Jam karet terlihat disemua lingkungan, baik itu lingkungan pekerja kantor, pembisnis, dan lingkungkan pendidikan. Disorot dari kacamata pendidikan tidak memungkiri budaya jam karet memang sudah membuming di lingkungan pendidikan. Mulai dari subjek pendidikan, objek pendidikan, dan para karyawannya. Padahal mereka para kaum terpelajar, entah tidak tahu atau tidak mau tahu yang jelas masalah menghargai waktu mereka masih perlu belajar.
Jam karet terjadi akibat orang-orang yang kurang menyadari dan tidak menghargai pentingnya waktu. Pelaku jam karet lebih pantas jika disebut sang koruptor waktu, mereka beranggapan “Tidak tepat waktu bukan masalah besar, yang penting datang”. Anggapan seperti itu dijadikan kata pamungkas sebagai alasan keterlambatan oleh orang-orang Indonesia yang pemalas. Biasanya jam karet timbul karena seringnya seseorang menyepelekan waktu, awalnya biasa tetapi kalau tidak dihentikan lama kelamaan akan berdampak negatif bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Yang jelas kebiasaan buruk para koruptor waktu harus dibenahi dan lebel budaya jam karet harus dihapuskan dari negara Indonesia.
Para koruptor waktu harus diberi peringatan agar mereka lebih bisa menghargai waktu dan tidak seenaknya sendiri menyianyiakan waktu. Seperti kata pepatah “Lewat satu menit sejuta kesempatan terlewatkan”, sungguh rugilah orang-orang yang meyianyiakan waktunya. Hidup bermanfaat jika waktu dimanfaatkan.

Minggu, 12 Mei 2013

PSIKOLOGI PENDIDIKAN



FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI BELAJAR

I.     PENDAHULUAN
            Keberhasilan seseorang dalam belajar sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Faktor – faktor belajar yang dimaksud disini  adalah peristiwa belajar yang terjadi pada diri pembelajar, yang dapat diamati dari perbedaan perilaku sebelum dan sesudah berada didalam proses belajar, sebab dalam makna belajar adalah adanya perubahan perilaku seseorang kearah yang lebih baik dalam melaksanakan pembelajaran. Faktor yang mempengaruhi seseorang dalam belajar itu banyak jenisnya. Faktor – faktor belajar itupun dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor intern yang berasal dari dalam dan faktor ekstern yang berasal dari luar. Antara kedua faktor itu masing masing bisa mempengaruhi seseorang untuk meningkatkan prestasinya yang diperoleh dengan cara belajar.
            Berikut akan dijelaskan lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan peranan faktor-faktor tersebut dalam keberhasilan belajar.

II.  RUMUSAN MASALAH
A.  Apa Pengertian Belajar?
B.  Apa Saja Faktor-Faktor yang Memengaruhi Belajar?
C.  Bagaimana Peran Faktor yang Memengaruhi Belajar terhadap Hasil Belajar?
III.   PEMBAHASAN
A.  Pengertian Belajar.
Menurut Dalyono (1994:49), Belajar adalah suatu usaha atau kegiatan, yang bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri seseorang, mencakup perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan serta keterampilan dan sebagainya. Belajar adalah kegiatan manusia yang sangat penting dan harus dilakukan selama hidup, karena melalui belajar dapat melakukan perbaikan dalam berbagai hal yang menyangkut kepentingan hidup, dengan kata lain melalui belajar dapat memperbaiki nasib, menggapai cita-cita yang didambakan.[1]

B.  Faktor-Faktor yang Memengaruhi Belajar
1.    Faktor Internal
Faktor Internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
a.    Faktor Fisiologis (Jasmaniah)
Faktor fisiologis meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik atau jasmani individu yang bersangkutan. Keadaan jasmani yang perlu diperhatikan sehubungan dengan faktor biologis ini dintaranya:
1)   Kondisi fisik yang normal.
Kondisi fisik yang normal atau tidak memiliki cacat sejak dalam kandungan sampai dia lahir. Kondisi fisik yang normal ini terutama harus meliputi keadaan otak, panca indra, anggota tubuh seperti tangan dan kaki, dan organ-organ tubuh bagian dalam yang menentukan kondisi kesehatan seseorang.
2)   Kondisi kesehatan fisik.
Kondisi kesehatan fisik yang sehat dan segar (fit) sangat mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang. Maka dari itu sangat diperlukan hal-hal yang untuk menjaga kesehatan fisik tersebut, seperti; makan dan minum harus teratur serta memenuhi persyaratan kesehatan, olahraga scukupnya, dan istirahat yang cukup. Selain itu jika terjadi gangguan kesehatan, segeralah berobat dan jangan membiasakan diri untuk membiarkan terjadinya gangguan kesehatan secara berlarut-larut.
b.    Faktor Psikologis (Rohaniah)
 Faktor psikologis ini bekaitan dengan kondisi mental seseorang. Kondisi mental yang dapat menunjang keberhasilan belajar adalah kondisi mental yang mantapdan stabil. Kondisi mental yang mantap dan stabil ini tampak dalam bentuk sikap mental yang positif dalam menghadapi segala hal, terutama hal-hal yang berkaitan dalam proses belajar. Selain berkaitan erat dengan sikap mental yang positif, faktor psikologis ini meliputi pula hal-hal berikut:
1)   Intelegensi
Intelegensi atau tingkat kecerdasan dasar seseorang memang berpengaruh besar terhadap keberhasilan belajar seseorang. Seseorang yang mempunyai intelegensi jauh dibawah normal akan sulit diharapkan untuk mencapai prestasi yang tinggi dalam proses belajar. Namun harus dipahami bahwa seseorang yang mempunyai intelegensi tinggi namun tidak ditunjang oleh faktor-faktor lain yang juga sebagai penunjang keberhasilan belajar, seperti kemauan, kerajinan, dan fasilitas belajar. [2]
2)   Motivasi
Motivasi adalah salah satu faktor yang memengaruhi keefektifan kegiatan balajar siswa. Motivasilah yang yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar.[3] Belajar perlu didukung oleh motivasi yang kuat dan konstan. Motivasi yang lemah akan menyebabkan kurangnya usaha belajar, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap hasil belajar.[4]
Dari sudut sumbernya, motivasi dibagi menjadi dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ektrinsik.
a)    Motivasi intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam diri individu dan memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu. Menurut Arden N. Frandsen (hayinah, 19992), yang termasuk dalam motivsi intrinsik untuk belajar antara lain adalah:
(1)   Dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki duniia yang lebih luas.
(2)    Adanya sifat positif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju.
(3)   Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misalkan orangtua, saudara, guru, atau teman-teman, dan sebagainya. 
(4)     Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
b)   Motivasi Ekstrinsik
Motivasi Ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar dari individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar. Seperti ujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orangtua, dan lain senagainya. Kurangnya respons dari lingkungan secara positif akan memengaruhi semangat belajar seseorang menjadi lemah.
3)   Minat
Secara sederhana, minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat adalah salah satu faktor yang memberi pengaruh terhadap aktivitas belajar. Jika seseorang tidak memiliki minat untuk belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau belajar. Untuk membangkitkan minat belajar siswa ada beberapa cara, diantaranya; pertama, dengan membuat materi yang akan dipelajari semenarik mungkin dan tidak membosankan, materi itu disusun dengan melibatkan seluruh domain belajar siswa (kognitif, afektif, dan psikomotor) sehingga siswa menjadi aktif dan tertari dengan materi yang disampaikan. Kedua; pemilihan jurusan sebaiknya dipilih sendiri oleh siswa sesuai dengan minatnya.
4)   Sikap
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relatif tetap terhadap objek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh perasaan senang pada performan guru, pelajran, atau limgkungan, sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional dan bertanggung jawab terhadap profesi yang dipilihnya. [5]

5)   Bakat
Bakat adalah potensi atau kemampuan kalau diberi kesempatan untuk dikembangkan melalui belajar, akan menjadi kecakapan yang nyata. Seseorang yang tidak berbakat akan sukar untuk mempelajari sesuatu secara mendalam. Menurut Hilgard dalam buku Slameto (2003: 58)“Bakat” adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.
6)   Daya ingat
Daya ingat merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi keberhasilan belajar. Daya ingat mempunyai tahap-tahap dalam mengingat suatu kejadian, Pertama, mencamkan (memasukkan) kesan. Kedua, menyimpan kesan. Ketiga, mereproduksi (mengeluarkan kembali) kesan. Dari sini daya ingat dapat didefinisikan sebagai daya jiwa untuk memasukkan, menyimpan, dan mengeluarkan kembali suatu kesan. Kesan disini adalah gmbaran yang tertinggal dalam jiwa.
7)   Daya konsentrasi
Daya konsentrasi merupakan suatu kemampuan untuk memfokuskan pikiran, perasaan, kemauan, dan segenap panca indra ke satu objek di dalam satu aktivitas itu. Kemampuan untuk melakukan konsentrasi itu memerlukan kemampuan dalam menguasai diri (daya penguasaan diri).[6]
2.    Faktor Eksternal
Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar individu itu sendiri dan dapat mempengaruhi belajarnya. Faktor eksternal yang memengaruhi proses belajar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.
1.    Lingkungan sosial
a.    Lingkungan sosial sekolah; seperti guru, administrasi, dan teman-teman sekelas dap memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan yang harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik disekolah.
b.    Lingkungan sosial masyarakat. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa, paling tidak siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilikinya.
c.    Lingkungan sosial keluarga. Ketegangan keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah), pengelolaan keluarga, semuanya memberi dampak terhadap aktivitas belajar siswa. Jika hubungan keluarga dengan baik dan harmonis maka akan membantu aktivitas belajar dengan baik.
Keluarga yang memiliki banyak sumber bacaan dan anggota-anggota keluarganya gemar membaca dan membaca akan memberikan dukungan yang positif terhadap perkembangan belajar dari anak. Sebaliknya keluarga yang miskin dengan sumber bacaan dan tidak senang membaca tidak akan mendorong anak-anaknya untuk senang belajar. Hubungan yang akrab, dekat, penuh rasa kasih sayang-menyayangi, saling mempercayai, saling membantu, saling tenggng rasa, dan saling mengerti.[7]
2.    Lingkungan non sosial
a.    Lingkungan alamiah.
Seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang sejuk dan tenang. Lingkungan alamiah tersebut merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya jika kondisi lingkungan alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terhambat.
b.    Lingkungan instrumental.
Lingkungan instrumental yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan menjadi dua mcam. Pertama hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan olahraga dan lain sebagainya. Kedua software, seperti kurikukulum sekolah, buku panduan, silabi, dan lain sebagainya.
c.    Faktor materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa)
Faktor ini hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangan siswa. Karena itu agar guru dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap aktivitas belajar siswa, maka guru harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi siswa.[8]
d.   Faktor Waktu
Bahwa waktu (kesempatan) merupakan faktor yang cukup penting. Kebanyakan pelajar tidak bisa membagi atau memanfaatkan waktu dengan seimbang antara waktu belajar dengan waktu istirahat (refreshing). Maka seseorang yang memiliki hasil belajar yang baik mereka dapat menggunakan dan membagi waktunya dengan baik. Perlu dipahami bahwa refresing atau hiburan tidak ada salahnya kita adakan dalam mengisi waktu, karena hiburan atau rekreasi bermanfaat untuk menyegarkan pikiran.[9]
C.  Peran Faktor yang Memengaruhi Belajar terhadap Hasil Belajar
Faktor-faktor yang telah di terangkan diatas dalam banyak hal saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor eksternal) umpanya biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, jika seorang siswa yang beriniteligensi tinggi (faktor internal) dan mendapat dorongan positif dari orangtuanya (faktor eksternal), mungkin akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil belajar. Jadi, karena pengaruh faktor-faktor tersebut diataslah, muncul siswa-siswa yang high-achievers (berpestasi tinggi) dan underachievers (berprestasi rendah) atau gagal sama sekali. Dalam hal ini, seorang guru yang kompoten dan profesional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar mereka.[10]
Dalam faktor-faktor yang memengaruhi belajar siswa seperti yang telah diterangkan diatas, faktor psikologis (rohaniyah) terdapat faktor bakat. Peran bakat dalam keberhasilan belajar ada yang mengatakan bahwa bakat sangatlah berperan penting dalam hasil belajar. Hubungan antara bakat dengan prestasi belajar yaitu; Perwujudan nyata dari bakat dan kemampuan adalah prestasi (Utami Munandar, 1992), karena bakat dan kemampuan sangat menetukan prestasi seseorang. Orang yang memiliki bakat matematika diprediksikan mampu mencapai prestasi yang menonjol dibidang matematika. Prestasi yang menonjol dibidang matematika merupakan cerminan dari bakat khusus yang dimiliki dalam bidang tersebut.
Perlu ditekankan bahwa karena bakat masih bersifat potensial, seseorang yang berbakat belum tentu mencapai prestasi yang tinggi dalam bidangnya jika tidak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan bakatnya secara maksimal. Bakat khusus yang memperoleh kesempatan maksimal dan dikembangkan sejak dini serta didukung oleh fasilitas dan motivasi yang tinggi, akan dapat terealisasikan dalam bentuk prestasi unggul.[11]
Peran bakat dalam keberhasilan belajar yaitu dapat diringkas bahwasanya individu yang memiliki bakat khusus dan memperoleh dukungan internal maupun eksternal, yaitu memiliki minat yang tinggi terhadap bidang yang menjadi bakat khususnya, memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, memilki daya juang tinggi, dan ada kesempatan maksimal untuk mengembangkan bakat khusus tersebut secara optimal maka akan memunculkan kinerja atau kemampuan unggul dan mencapai prestasi yang menonjol.[12]

IV.   KESIMPULAN
            Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya.
            Faktor internal yaitu faktor faktor yang berasal dari dalam diri seseorang itu sendiri dan dapat memengaruhi terhadap belajarnya. Faktor internal dibedakan menjadi dua  yaitu faktor fisiologis, dan faktor psikologis.
Faktor eksternal yaitu faktor faktor yang berasal dari lingkungan luar dan dapat mempengaruhi terhadap belajarnya. Faktor eksternal dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan sosial dan lingkungan non sosial. Lingkungan sosial meliputi; lingkungan sosial sekolah, lingkungan sosial masyarakat, dan lingkungan sosial keluarga. Sedangkan lingkungan non sosial meliputi; lingkungan alamiah. lingkungan instrumental, faktor materi pelajaran, dan faktor waktu.
Peran faktor yang mempengaruhi belajar terhadap hasil belajar, salah satunya yaitu bakat, bakat yaitu faktor yang berasal dari faktor psikologi (rohaniyah). Peran bakat dalam keberhasilan belajar yaitu dapat diringkas bahwasanya indiviu yang memiliki bakat khusus dan memperoleh dukungan internal maupun eksternal, yaitu memiliki minat yng tinggi terhadap bidang yang menjadi bakat khususnya, memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, memilki daya juang tinggi, dan ada kesempatan maksimal untuk mengembangkan bakat khusus tersebut secara optimal maka akan memunculkan kinerja atau kemampuan unggul dan mencapai prestasi yang menonjol.

V.  PENUTUP
Demikian makalah ini saya buat. Saya sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca sangat diharapkan agar makalah yang kedepan dapat lebih baik. Semoga makalah ini bermanfaat bagi semuanya, Amin.
                            DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara. 2008
Baharuddin dan Nur Wahyuni. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Ar-Ruzz Media. 2010
Hakim, Thursan. Belajar Secara efektif. Jakarta: Puspa Swara. 2000
Mustaqim. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2001
Sukmadinata, Nana Syaodah. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT.Remaja Rosda Karya. 2009
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya. 2010



[1] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm.34
[2] Thursan Hakim, Belajar Secara efektif, (Jakarta: Puspa Swara, 2000), hlm.11
[3] Baharuddin dan Nur Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), hlm. 22
[4] Nana Syaodah Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2009), hlm.163
[5] Baharuddin dan Nur Wahyuni, Op. Cit, hlm. 23-25
[6] Thursan Hakim, Op.Cit., hlm 13-16
[7] Nana Syaodah Sukmadinata, Op. Cit., hlm.164
[8] Bahruddin dan Nur Wahyuni,Op. Cit., hlm. 27-28
[9] Thursan Hakim, Op.Cit.,  hlm.15
[10] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2010), hlm. 129-130
[11] Mohammad Ali dan Mohammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 80
[12] Ibid, hlm. 81